TETESAN AIR MATA
SAHABAT
Apa artinya punya wajah cantik kalau aura pucat siap datang untuk menghiasi, apa arti dari indahnya senyuman yang mengambang, di kala bekunya bibir siap mewarnai, apa artinya dari indahnya redupan kedipan mata, tatkala tetesan air mata siap melembabkan kelopaknya, dan apa arti dari kecantikan serta kesempurnaan yang di miliki sang putri, tatkala maut menanti dengan begitu dekatnya.
“En, boleh nggak aku nanya sesuatu am kamu? Ucap Faizah sama Eni. Faizah adalah teman dekatnya. Bayangkan, sejak masih di SD sampai SMA, mereka selalu bersama dan duduk sebangku lagi.
“Ya, bolehlah. Emangnya kamu mau Tanya apa?” jawab Eni sambil mengerjakakan matematiknya, tentang materi persamaan linier sampai subtitusi.
“Tapi kamu janji, kamu gak bakalan marah ama aku kan?” ucap Faizah kemudian sambil menatap kearah temannya yang lagi consent mengerjakan tugas matematikanya.
“Ya aku janji” jawab Eni dengan lembut”
“Kenapa sih kamu selalu menghindar tiap kali ada cowok yang PDKT ama kamu?” tanya Faizah menatap wajah manis Eni yang tampak di wajah Bolywoodnya.
“Oh masalah itu, aku nggak pengen aja mereka salah dalam memilih pacar” jelas Eni di sela mengerjakan tugasnya.
“Maksudmu!!!” Faizah tidak mengerti dengan yang di katakan Eni.
“Ya, masak mereka mau cari pacar kayak aku sih, masih banyak khan cewek yang lebih sempurna dari pada aku,” jelas Eni kemudian.
“Tapi kata mereka kamu merupakan cewek yang mereka idam-idamkan, Andi mengatakan bahwa selain pintar kamu juga cantik, katanya Smile wajahmu tuh merupakan kolaborasi antara Inggris ama Indonesia, sedangkan candra bilang, kamu bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan tuk mewarnai kehidupan kaum Adam di dunia ini” ungkap Faizah detail.
“Masak sih mereka bilang begitu?” Alhamdulillah berarti Rahmat Allah masih menghiasi di setiap jejak langkahku”, Eni tersenyum.
“Enak yah, banyak yang naksir, sedangkan aku hanya di jadiin tempat ungkapan hati setiap cowok yang PDKT am kamu” ketus Faizah.
“Sebenarnya, dengan begitu kamu mesti bersyukur karena semakin banyak cowok-cowok yang percaya ama kamu” Eni memandang wajah cemberut Faizah.
“Ya iya deh bu nyai” celotoh Faizah. Eni memang cewek yang boleh di bilang serba lengkap, wajah cantik yang menjadi objek pandangan mata setiap cowok dimanapun dia berada, otak jenius sekaligus inteleknya yang menjadikan dia sebagai ujung tombak di sekolahnya tatkala perlombaan study antar sekolah di selenggarakan, serta tebaran indah senyumnya yang memebuat semua orang senang tatkala memandang wajahnya yang cantik.
Namun siapa yang menyangka di balik kesempurnaannya dia memiliki penyakit koronis yang tidak mungkin di harapkan kesembuhannya, Hemofolia yaitu sebuah penyakit pembekuan darah, yang di idapnya sejak kecil. Dan karena penyakit itu dia selalu menjaga jarak dan berusaha untuk menghindari setiap cowok yang hendak mendekatinya.
****
Dalam dekapan hangat sang putri malam, tiupan angin sepoi-spoi yang setia membelai bulu roma, serta senyuman rembulan yang bersembunyi di balik gumpalan awan seakan malu memandang wajah cantiknya yang sedikit lembab dengan tetesan air mata yang kian kerap membasahi rona pipinya.
“Ya Allah, Tuhan pencipta semua Mahluk, dengarkanlah setiap lantunan do’a hamba, lihat setiap derai air mata hamba yang tiada henti menemani di setiap lamunan hamba, Ya Allah, mungkin semua orang dengan leluasa merasakan indahnya alam ciptaan-Mu ini, mungkin semua orang dapat berbahagia tatkala kata pujian datang menghinggapi, dan mungkin semua orang merasa senang tatkala cita-cita mengepakkan sayapnya, tapi tidak dengan hamba, hati hamba menjerit, setiap ada lelaki yang mendekati hamba, sukma ini merintih dikala mendengar kata pujian, kalbu ini berteriak tatkala melihat orang yang tersenyum tatkala menatap masa depannya, dada hamba terasa sesak tatkala semua orang bilang bahwa hamba mahluk yang sempurna, karena mereka tidak tahu apa yang hamba alami sekarang ini tentang penyakit yang hamba alami.
“Ya Allah, posisikan hamba dalam keadaan Husnul Khotimah tatkala Malaikat Izro’il-Mu menjemput hamba. Amin” Eni mengusap wajahnya yang lembab dengan air mata.
*****
Matahari menyapa ramah rerumputan yang basah dengan embun, burung-burungpun mengumandangkan nyanyianya menyebut datangnya sang pagi, seperti biasa Eni pamit pada kedua orang tuanya sebelum berngkat sekolah.
“Pa, Ma, Eni berangkat sekolah dulu ya, do’ain semoga Eni mendapat ilmu yang bermanfaat yang akan memberi syafaat pada Papa dan Mama kelak di hari kiamat/Akhirat” Eni mencium tangan kedua orang tuanya.
Mendengar perkataan anak semata wayangnya, Papa dan Mama Eni tidak kuasa menahan tetesan air matanya.
“Berat rasanya Papa harus berpisah sama kamu sayang, tapi kehendak Allah lah yang membuat papa harus merelakan tatkala suatu saat nanti Malaikat Izra’il-Nya, datang menjemputmu sewaktu-waktu” papa memeluk tubuh Eni dengan erat.
“Hati-hati ya sayang, semoga Allah merahmati setiap jejak langkahmu”, Mama mencium Eni bersama isakan tangisnya.
“Assalamu’alaikum” pamit Eni ditemani rintihan sukmanya serta jeritan hatinya yang menyayat setiap dia melihat kedua orang tuanya, dia merasa belum siap tuk berpisah dengan orang yang sangat menyayanginya untuk selamanya.
“Pagi En” Andi menghampiri Eni yang sedang membaca koleksi buku syair sayap patah karya fundamental Khalil Ghibran.
“Pagi” jawab Eni senyum.
“Lagi baca buku Sastra ya….? Bakalan jadi sastrawan besar dong” Andi mengambil posisi duduk di sebelah Eni, Eni pun berdiri!!!!
“Kenapa sih denganmu, setiap aku pengen dekat denganmu, kamu selalu menghindar dariku, emang apa sih salahku?. Andaikan kamu tau betapa besarnya perasaanku padamu, aku sangat sayang kamu, aku sangat cinta ama kamu En” Andi memegang lengan Eni berusaha untuk pergi.
“Lepasin Andi” Eni berusaha berontak.
“Aku gak bakalan ngelepasin, sebelum kamu ngejelasin apa maksudmu menghindar dariku” ucap Andi dengan nada sedikit agak tinggi.
“Lepasin, lepasin” lagi-lagi Eni mencoba tuk berontak.
Dari kejauhan datang sosok cowok beramabut ala primus berbadan atletis menghampiri.
“Andi, lepasin” ucap Smile lembut”
“Udah jangan sok jadi pahlawan loh, ini urusanku dengan Eni, kamu nggak usah ikut campur” Andi memandang tajam pada Smile.
“Jadi kamu nggak mau ngelepasin” ucap Smile dengan nada agak meninggi sedikit.
“Nggak emang….” Andi belum selesai ngelanjutin ucapannya. Bogem mentah Smile sudah mendarat di pipi kanannya. Andi membalas tonjokan Smile, keduanyapun larut dalam perkelahian layaknya jet lie dengan jhaki chan merebutkan sang putri pujaan mereka.
Eni hanya bisa diam dengan di temani tetesan air mata berliannya melihat kedua temannya saling adu kekuatan, di sela sendu tangisnya datang beberapa siswa yang ngelerai Andi dan Smile dalam pertengkaran.
“Kamu ga apa-apa…? Faizah membelai rambut Eni yang indah bergelombang.
“Faizah…..!!!” tangis Faizah memeluk erat tubuh Faizah.
“Udah, sekarang kamu tenang, semuanya pasti beres ko', Faizah mengusap air mata Eni yang mengalir deras di sela rona pipinya.
“Mengapa ini harus terjadi Faiz, apa salahku, apa dosaku, sehingga Andi dan Smile harus berantem?”, Eni mengambil nafas panjang dan kemudian menurunkannya secara perlahan.
“kamu gak salah dalam hal ini, Andi dan Smile-lah yang salah karena sama-sama mencintaimu”, Faizah mencoba menenangkan Eni.
“Faizah, nanti malam datang kerumah ya, aku pengen ngejelasin factor mengapa aku selalu menghindar dari semua cowok yang selalu ngedekatin aku?” Eni memandang sayup kearah Faizah.
“Ya, Insya Allah pasti aku datang, Faizah memegang lembut tangan Eni.
****
Rona senja menutup senyuman sang mentari yang semakin menenggelamkan bentuknya di balik gumpalan awan laut, bangau putih terbang kembali tatkala sang malam datang dengan gulitanya.
“Assalamu’alaikum…!!! Malam sang putri” sapa Faizah di balik pintu kamar Eni, yang di biarkan terbuka.
“Malam, sini masuk faiz” ucap Eni dnegan hiasan tebaran senyum madunya.
“En, tadi kamu dengar ngga’?” Faizah membuka percakapan.
“Dengar apaan”? Eni penasaran.
“Katanya Andi dan Smile udah baikan lho, malahan mereka udah duduk satu bangku lagi” ungkap Faizah sambil meneguk minuman yang di hidangkan Eni padanya.
“Beneran”?
“Ya iyalah, kapan sih aku bohong ama kamu” Faizah mengambil salah satu buku yang tertata rapi di meja belajar Eni.
“Alhamdulillah” Eni bersyukur.
“Oh iya, katanya kamu mau ngasih tau tentang factor yang nyebapin kamu selalu menghindar dari setiap cowok yang PDKT kepadamu?” kata faizah kemudian.
Eni terdiam, sesaat dia mengambil buku catatan pribadinya.
“Kenapa kamu, kamu tersinggung ya,? Dengan pertanyaanku? Faizah memandang wajah Eni yang menampakkan aura kesedihan.
“Baca buku ini, kamu bakalan tau dan sebab aku selalu menghindar dari cowok yang PDKT ke aku” Eni memberikan buku catatan pribadinya keFaizah.
“Hemofolia” Faizah membaca bagian judul dari buku catatan pribadi Eni. “Apa!!!, kamu mengidap penyakit Hemofolia” ucap Faizah seraya memandang wajah manis Eni yang tampak agak pucat.
“Benar, aku ngidap penyakit Hemofolia, menurut dokter hidupku hanya tinggal hitungan hari saja” ungkap Eni matanya memandang kearah bintang-bintang yang bertaburan di balik gulitanya yang berkedip di balik dekapan selimut sang malam.
“Jadi ini yang nyebapin kamu selalu mgnhindar dari coeok-cowok yang PDKT ke kamu?” Faizah tidak bias menahan tetesan air matanya yang sedikit demi sedi kit membasahi pipinya.
“Aku nggak mau ngebuat mereka sedih, aku nggak mau membuat mereka merasa kehilangan, tatkala waktu hidup aku udah habis, sebenarnya aku juga sayang ama mereka, aku juga cinta sama mereka, tapi aku pendam semua perasaan itu, karena aku sadar, umurku gak bakalan lama lagi” jelas Eni tersendat-sendat menahan isakan tangisnya.
“Kenapa kamu gak jelasin semua ini pada mereka, supaya mereka ngerti.” Faizah memegang erat tangan Eni yang kian mendingin seiring larutnya malam.
“Aku gak berani ngungkapin semua ini, karena aku takut mereka bakalan larut dalam kesedihan, apalagi sama Candra aku palig gak tega ngeliat tetesan air matanya membasahi pipi indahnya, karena aku sangat sayang kepadanya, ketimbang Andi dan Smile” jelas Eni kemudian.
“Terbuat dari apa hatimu En, sungguh putih hatimu, sungguh jernih sukmamu, sehingga kamu ngerasain sekaligus ngidapin penderitaan ini sendiri”, Faizah memeluk tubuh Eni. Keduanyapun larut dalam kesedihan seiring dekapan sang malam, terangnya cahaya, Elektra-pun seakan redup hanyut dalam suasana kesedihan.
****
Pagi hari yang cerah ditandai sapa ramah sang mentari di upuk timur, lambaian halus dedaunan, serta aktifitas kumbang menghisap madu sang bunga turut menambah keasrian sang pagi.
Sudah tiga hari Eni tidak masuk sekolah, hembusan kabarpun tidak terdengar.
“Faizah, kamu di panggil Bu Rahma”, ucap Afifah, menghampiri Faizah yang lagi mengerjakan tugas akuntansinya tentang materi pemostingan jurnal umum kebuku besar.
“Bu Rahma memanggil aku ada apa?” Faizah mengerutkan keningnya.
“Mana ku tau, nanya tentang Eni kali” ucap Afifah kemudian.
Faizah menutup buku akuntansinya, walaupun belum selesai mengerjakannya, dan langsung pergi keruang guru untuk menemui bu Rahma guru biologi yang memanggilnya.
“Assalamu’alaikum, ibu memanggil saya” sapa Faizah di depan pintu.
“Iya, sini duduk” bu rahma mempersilahkan Faizah duduk di kursi yang berada di hadapannya.
“Memangnya Eni kemana, udah tiga hari dia tidak masuk?” Tanya bu Rahma setelah Faizah duduk.
“Saya juga kurang tau bu, dimana dia berada, soalnya udah beberapa kali saya nelpon ke HP maupun ke telpon rumahnya, nggak pernah di angkat-angkat” jawab Faizah dengan sopan.
“Bagaimana ya, masalahnya sebentar lagi lomba studi kimia akan di selenggarakan, dan kalau Eni tidak ada, siapa yang bakalan gantikan dia, bisa-bisa sekolah kita kalah, karena selama ini Cuma Eni yang mengharumkan nama sekolah kita dalam lomba study kimia”. Jelas bu Rahma sedikit gelisah.
“Begini aja bu, nanti setelah pulang sekolah, saya kerumah Eni untuk memberi tau hal ini”, tutur Faizah mencoba menenangkan kegelisahan bu Rahma.
“Ya bagus, dan sampaikan pada dia kalau sekolah sangat membutuhkan daya intelegensinya”, bu Rahma memegang pundak Faizah.
“Assalamu’alaikum” Faizah pamit pada bu Rahma.
Seperti yang telah di janjikan pada bu Rahma setelah pulang sekolah Faizah langsung bergegas menuju kerumah Eni, yang terletak di komplek perumahan dekat studio Indosiar kebun jeruk, Jakarta Selatan.
“Assalamu’alaikum” ucap Faizah di balik pagar besi, yang terkunci rapi. “Assalamu’alaikum” sapa Faizah lagi, tapi tidak satu salampun yang di jawab oleh penghuni rumah mungil yang bermotif ala perumahan Mollibou California tersebut.
“Assalamu’alaikum” lagi-lagi salam Faizah tidak terjawab. Tiba-tiba ada seorang ibu setengah baya menghampirinya.
“Adik mau cari siapa”? Tanya ibu tersebut.
“Mmm…, penghuni rumah ini kemana ya bu?” Tanya Faizah.
“Adik, temannya non Eni ya?” tebak ibu tersebut.
“Iya betul, saya teman sekelasnya” ucap Faizah kemudian.
“Sayang sekali, orang yang ingin adik temui sekarang sudah nggak ada lagi”, ibu setengah baya tersebut meneteskan air matanya.
“Maksud ibu!!!”
“Iya, non Eni udah meninggal dunia dua hari yang lalu, setelah selesai mengerjakan sholat Subuh, dan jasadnya di makamkan di komplek pemakaman umum, kedua orang tuanya pun memutuskan pindah rumah, karena rumah ini penuh kenangan dan mengingatkan pada non Eni” jelas ibu tersebut tersendat-sendat tak kuasa menahan sendu isakan tangisnya.
“Apa!!! Eni udah meninggal bu!!!” Faizah terkejut nggak percaya, tetes bening berlian dengan deras menemani kedipan matanya.
“Ya udah, makasih bu ya” ucap Faizah seraya langsung pergi menuju kemakan Eni di temani deras air mata di setiap jejak langkahnya.
Sesampainya Faizah di makam, “Eni, mengapa semua ini harus terjadi pada kita, begitu cepat kamu ninggalin aku sih En, aku belum puas ngeliat wajah manismu yang kerap menghiasi di keindahan persahabatan kita” Faizah membelai lembut tanah makam Eni yang masih basah dengan siraman bunga-bunga.
“Apa yang harus aku katakana pada bu Rahma En, sekolah sekarang lagi butuh kecerdasanmu En, siapa yang bakal menjadi penggantimu, untuk mengikuti lomba, siapa En…!!!, Faizah tidak mampu menerka derai air matanya yang semakin deras mengalir. Sesaat Faizah menengadahkan kedua tangannya ke arah langit.
“Ya Allah, Tuhan pemilik semua makhluk, Engkau sudah menjemput Eni ke sisi-Mu, berikan dia ketentraman berada di sisi-Mu, jadikanlah dia sebagai pemberi pertolongan bagi kami, Ya Allah kuatkanlah hamba dalam menerima semua ini, karena hamba belum siap untuk berpisah dengannya, sebagai sahabat terbaik hamba, hamba masih rindu senyum manisnya, hamba masih rindu kecerdasannya, Ya Allah berikan tempat yang berhiasan yakut serta mutiara di sisi-Mu, karena dia memang pantas untuk mendapatkannya, wanita yang solehah, wanita yang membuat orang senang tatkala memandang wajah cantiknya,, Amin…….”.
Faizah mengusap wajahnya yang lembab dengan air mata.
****
( Eni Sulistianingsih )
NB: Bagi semua sahabat pembaca cerpen ini, bias mengambil hikmah yang baik, dalam arti dari kisah di atas bias kita semua cerna hikmah yang terkandung di dalamnya, setidaknya untuk mengintrospeksi diri, karena fakta di dunia ini, kecantikan adalah segalanya bagi kaum hawa, padahal di balik semua itu bukan seperti yang kita semua bayangkan. Coba lagi kita renungkan dalam-dalam, apa yang di berikan tuhan kepada kita hanya sebuah titipan, yang sewaktu-waktu akan sirna, dan akan kembali kepada-Nya.
Segala yang ada di dunia ini tidak selamanya akan berada (kekal).
Hanyalah sebuah titipan, dan titipan itu adalah ujian, jadi berhati-hatilah kita dalam titipan tersebut kelak kita akan pertanggung jawabkan di akhirat.
Sodakollohul ‘aziim