Selasa, 27 September 2011

Lampion Kecil

Pertemuan

Ketika aku menatap kedua matanya rasanya sayu dan begitu tulus,aku merasan tergugah dan dadaku rasanya sesak, seakan jantungku begitu deras mengalirkan darah mendesir ke ubun-ubunku. Tubuhku seakan lunglai layu dan tanpa tenaga. Tatapan matanya mengandung arti yang sangat sulit aku jelaskan. Dan ketika wajahnya ada tepat di depanku aku semakin gelagapan dan semakin dekat dan akhirnya disentuhnya bibirku di cium,aku merasa jangtungku seakan berhenti berdetak. Tidak ada yang bisa aku rasakan untuk sesaat, bukan karena dia menciumku,tapi , karena aku dan dia sudah begitu lama berpisah. Ini pertama kalinya aku di cium olehnya,seolah-olah ini mimpi saja.
Aku tidak tahan dan rasanya tidak akan sanggup jika seandainya dia akan meninggalkanku lagi, dan aku kan menunggu lagi, bertahun-tahun, tersiksa lagi, aku ingin mengerti tapi bagaimana mungkin aku bisa? Sementara aku sangat mencintainya dengan sangat tulus. Bukan apa-apa dan bukan karena apapun,tapi cinta ini begitu tulus aku rasakan padanya, walaupun cinta ini kan menyesatkanku…
Keheningan malam ini membangunkan jiwa yang begitu rapuh, andai kau jujur tiada kau mengkhianati, aku tidak akan terluka, dan aku menangis dengan bahagia dan sakit yang kau bawa. Dan kisah ini masih panjang, berat dan sangat menguras semua pikiran dan emosiku, aku kan jadikan semuanya rahasia.
Lantas kenapa?
Kenapa ada yang iri dengan bahagia yang aku rasa? Rasanya aku rapuh…..
Haruskah aku kan kehilangan kau?cinta yang begitu tulus, sebab aku sangat mencintainya… jika saja aku bisa mengungkapkan semua itu dengan sangat indah…
Kini aku tahu bagaimana caranya agar aku dapat terus bersamamu…